Aku
terbangun dari tidurku yang lelap pagi ini, tampak gorden kamarku telah terbuka
dan sinar matahari masuk melalui ventilasi kamarku. Ku lihat ke arah jam, waktu
menunjukkan pukul 7 pagi. Hari ini hari sabtu, kali ini aku tak bisa bermalas-malasan
di atas tempat tidur atau merapihkan rumah dengan lambat seperti hari sabtu
biasanya.
Hari
ini aku janjian latihan musikalisasi puisi dengan teman sekelompokku di
sekolah. Maka dari itu, aku pun bergegas dengan cepat ke wastafel untuk mencuci
wajah dan menyikat gigi, setelah itu aku ambil dua helai roti di meja makan dan
mengoleskannya dengan mentega, lalu mengunyahnya hingga habis.
Dari
tadi, ada sesuatu yang selalu kepikiran diotakku, entah itu apa. Aku pun
mencoba mengingatnya, setelah beberapa lama mengingatnya, aku pun tahu itu apa!
Sahabatku Uli hari ini ulang tahun, “astaga kenapa aku bisa lupa hari ini hari
ulang tahun Uli“ kataku dalam hati.
Aku
pun mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan berupa ucapan ulang tahun ke
Uli, terlihat juga beberapa pemberitahuan pesan dari yang lain, mataku terfokus
pada satu pesan yang dikirimkan oleh sahabatku Tya.
“Aliciaaa,
kamu berangkatnya jam berapa?” tanya Tya, “jam setengah 9 ty. Kamu udah berangkat?”
balasku. Tak beberapa menit Tya membalas pesanku, “belum. Kalau udah jalan
kasih tau yaa” “ya” balasku.
Aku
pun bergegas mandi dan berpakaian. Lalu berpamitan pada orang tua dan berangkat
menuju sekolah. “Tya aku udah berangkat, kamu lagi dimana sekarang?” pesanku. “masih
dirumah, udah kamu latihan aja dulu sama yang lain” balasnya.
Aku langsung menemui teman
sekelompokku yang sudah menunggu di taman. Dan memulai latihan musikalisasi
puisi kita, disitu pun juga ada sahabatku Regina, walau ia bukan teman
sekelasku tetapi ia senang bergabung dan berbagi ilmu pengetahuan kepada kami.
Tak lama Tya pun datang, lalu kami
memulai latihan yang lebih lengkap dengan Tya. Beberapa jam berlalu, kami pun
memutuskan untuk mengakhiri latihan kami dan berpamitan untuk pulang. Tetapi
aku dan sahabatku Tya, Regina, dan Betty yang baru saja datang memutuskan untuk
menonton film di bioskop sekaligus membeli kado untuk Uli. Aku pun menelepon
Imelda untuk mengajaknya ikut dengan ku dan yang lain. Disisi lain Tya juga menelepon
Melati, dan Betty menelepon Uli.
“Halo. Imel kamu bisa gak nonton
bioskop sekarang? sekalian beli kado buat Uli juga” tanyaku lewat telepon. “Yah
maaf lis, aku gak bisa soalnya orangtuaku lagi pergi aku harus jaga rumah, dan
uangku juga cuma recehan” jawab Imelda. “Yahhh, ya udah deh kalau kamu gak bisa
gapapa, oke bye” aku memutuskan sambungan telepon.
“Gimana Mela sama Uli bisa? Imelda
gak bisa nih” tanyaku kepada mereka. “Mela gak bisa lis, lagian rumah dia juga
jauh kan” jawab Tya. “Uli bisa tapi gak tau juga bisa atau gak pokoknya kalo
Uli bisa dia nyusul, kita nunggu di Gramedia” jelas Betty.
Aku bersama yang lain pun menyetop angkot,
dan kami pun pergi menuju tempat tujuan kami. Walau hanya berempat, tapi aku
merasakan kegembiraan seperti halnya kami bertujuh. Aku membuat lelucon untuk
menghibur teman-temanku agar kami tidak bosan dalam perjalanan. Haha betapa
senangnya kami, tidak terasa kami telah sampai di tempat tujuan kami.
Aku dan yang lain menunggu Uli di
Gramedia, dan tak lama Uli muncul dan kami segera menuju ke bioskop tuk membeli
tiket. Aku dan Uli memesan snack lalu masuk ke bioskop bersama yang lainnya. Selesai
menonton, rencana kami untuk membeli kado harus dilaksanakan, namun aku harus
mengantar Uli pulang.
“Ty gimana nih beli kadonya? Uli
susah banget diajak pulang” bisikku. “Hmm… kita kan berempat searah pulangnya
bilang aja kita pulang duluan” jawab Tya. “yaudah deh. Uli kita pulang duluan
ya, kamu mau ke klinik ibu kamu kan?” kataku, “aku ikut kalian aja deh lewat
depan, nanti aku naik angkot yang lain” jawabnya. “okedeh”
Aku mengantar Uli ke tempat angkot
yang akan ditumpanginnya, tetapi saat kami melewati toko topi, tiba-tiba Uli
berhenti berjalan dan menghampiri toko topi itu dan mengambil salah satu topi
ditoko itu. “Aaaa…ini kan topi yang aku cari” ia memakai topi tersebut dan
bergaya layaknya artis.
“kode
dah” bisikku ke Regina, “ya haha lis“ tawa Regina. “mas yang ini harganya
berapa ya?” tanya Uli kepada salah pegawai toko topi itu. “90 ribu dek” jawab
pegawai toko itu. “oh yaudah deh mas, lain kali aja”
Sepertinya
Uli menginginkan topi itu, iya sih memang lagi ngetrend-nya topi seperti itu,
aku tak tahu harganya tadi aku tak mendengarnya dengan jelas. “tadi harganya berapa
deh bet?” tanyaku kepada Betty, “gak tau aku gak denger tadi”.
Tak
terasa aku sudah sampai didepan dan mengantar kan Uli dan berpura-pura
mendadahi Uli lalu menaikki angkot lain. Setelah itu, kami masuk kembali
kedalam Mall tersebut dan ke toko topi itu. “mas topi yang ini berapa tadi?”
tanya Tya, “90 ribu dek”.
“Yah,
mahal yak. Uang aku ga cukup deh kayanya kalo patungan harganya segitu” kata
Betty, “ya nih uang aku juga” kataku, “aku juga” kata Regina. “udah ah aku
capek dari tadi jalan-jalan mondar mandir mulu” keluh aku. “Iiihh yaudah
kadonya beli apa?” tanya Tya agak kesal.
Aku
hanya mendiamkan perkataan Tya, kaki ku lemas lama-lama jika harus pergi lagi
mencari kado yang lain. Tanpa berkata-kata aku pun berjalan paling depan dan
mencari toko-toko, aku pun masuk ke toko ‘Yayang’ diikuti yang lain.
“Cari
yang mana nih?” tanya Regina, “terserah kalian” jawabku. “yang ini gimana?”
usul Betty. “memang Uli mau kek beginian?” tanya Tya. “gak sih” kataku. “oh iya
Cindy juga kan ulang tahun senin, sekalian beli kadonya aj kali yak” kata
Betty. “kado buat Uli aja belum” batinku.
Akhirnya
aku dan yang lain mencari barang yang
bagus dijadikan kado untuk Uli dan Cindy, kado Untuk Cindy itu lampu meja bergambar doraemon, kebetulan
juga Cindy sangat menyukai doraemon. Namun kado yang cocok buat Uli belum juga
ketemu.
Akhirnya
aku dan yang lain masuk ke Ramayana, dan berniat menyari baju sesuai selera
Uli. Menemukan baju yang cocok buat Uli sangatlah susah aku pun harus mondar
mandir kesana kemari. Tiba-tiba aku melihat sebuah baju yang sangat bagus dan
menarik walaupun itu hanya kaos tapi warna dan gambarnya sangat menarik.
Dan
juga tedapat quotes-quotes dalam bahasa inggris, memang Uli sangat pintar dalam
bahasa inggris. Tetapi aku dan teman-teman menemukan masalah, kami bingung
ukuran badan Uli berapa. Aku pun menyuruh Regina mencobanya, karena memang
badan Regina ideal mungkin bisa menjadi patokannya.
“Re
cobain re” pintaku. “ah jangan aku ah” kata Regina, “yailah re nyoba doang iih”
kata Betty. “tau nih Re buruannn” paksa Tya. “tau re buruan, aku udah di sms
suruh pulang”. Aku, Tya dan Betty marah karena Regina susah disuruh untuk mencoba
memakainya padahal aku dan yang lain sangat buru-buru karena langit sudah mulai
gelap dan hujan telah membasahi bumi.
“Yaudah
deh aku coba sinii” jawab Regina dengan wajah pasrah. “dari tadi kek huh nihh”
kata Tya. “tau nih hoo” seru ku.
Regina
menyoba baju itu dan pas, aku pun mengambik ukuran yang lebih besar lagi karena
memang badan Uli agak sedikit besar dibanding Regina. Aku dan yang lain pun
pergi ke kasir, dan membayar baju tersebut. Setelah itu, aku memutuskan untuk
pulang duluan bersama Regina dan Tya, Betty masih di Mall mencari makanan untuk
mengisi perut mereka.
Pada
hari seninnya, Aku, Tya, Regina, Betty, Imelda, dan Melati memberi kado
tersebut langsung kepada Uli dan Cindy. Mereka pun menerima kado itu dengan
senang hati, betapa senangnya aku dan yang lain akhirnya bisa memberikan kado
untuk Sahabat kami Uli dan Cindy.
Alicia Nathasa Arastone