Sabtu, 18 Januari 2014

Kado Untuk Sahabat (Cerpen)

Diposting oleh Unknown di 06.01


Aku terbangun dari tidurku yang lelap pagi ini, tampak gorden kamarku telah terbuka dan sinar matahari masuk melalui ventilasi kamarku. Ku lihat ke arah jam, waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Hari ini hari sabtu, kali ini aku tak bisa bermalas-malasan di atas tempat tidur atau merapihkan rumah dengan lambat seperti hari sabtu biasanya.
Hari ini aku janjian latihan musikalisasi puisi dengan teman sekelompokku di sekolah. Maka dari itu, aku pun bergegas dengan cepat ke wastafel untuk mencuci wajah dan menyikat gigi, setelah itu aku ambil dua helai roti di meja makan dan mengoleskannya dengan mentega, lalu mengunyahnya hingga habis.
Dari tadi, ada sesuatu yang selalu kepikiran diotakku, entah itu apa. Aku pun mencoba mengingatnya, setelah beberapa lama mengingatnya, aku pun tahu itu apa! Sahabatku Uli hari ini ulang tahun, “astaga kenapa aku bisa lupa hari ini hari ulang tahun Uli“ kataku dalam hati.
Aku pun mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan berupa ucapan ulang tahun ke Uli, terlihat juga beberapa pemberitahuan pesan dari yang lain, mataku terfokus pada satu pesan yang dikirimkan oleh sahabatku Tya.
“Aliciaaa, kamu berangkatnya jam berapa?” tanya Tya, “jam setengah 9 ty. Kamu udah berangkat?” balasku. Tak beberapa menit Tya membalas pesanku, “belum. Kalau udah jalan kasih tau yaa” “ya” balasku.
Aku pun bergegas mandi dan berpakaian. Lalu berpamitan pada orang tua dan berangkat menuju sekolah. “Tya aku udah berangkat, kamu lagi dimana sekarang?” pesanku. “masih dirumah, udah kamu latihan aja dulu sama yang lain” balasnya.           
            Aku langsung menemui teman sekelompokku yang sudah menunggu di taman. Dan memulai latihan musikalisasi puisi kita, disitu pun juga ada sahabatku Regina, walau ia bukan teman sekelasku tetapi ia senang bergabung dan berbagi ilmu pengetahuan kepada kami.
            Tak lama Tya pun datang, lalu kami memulai latihan yang lebih lengkap dengan Tya. Beberapa jam berlalu, kami pun memutuskan untuk mengakhiri latihan kami dan berpamitan untuk pulang. Tetapi aku dan sahabatku Tya, Regina, dan Betty yang baru saja datang memutuskan untuk menonton film di bioskop sekaligus membeli kado untuk Uli. Aku pun menelepon Imelda untuk mengajaknya ikut dengan ku dan yang lain. Disisi lain Tya juga menelepon Melati, dan Betty menelepon Uli.
            “Halo. Imel kamu bisa gak nonton bioskop sekarang? sekalian beli kado buat Uli juga” tanyaku lewat telepon. “Yah maaf lis, aku gak bisa soalnya orangtuaku lagi pergi aku harus jaga rumah, dan uangku juga cuma recehan” jawab Imelda. “Yahhh, ya udah deh kalau kamu gak bisa gapapa, oke bye” aku memutuskan sambungan telepon.
            “Gimana Mela sama Uli bisa? Imelda gak bisa nih” tanyaku kepada mereka. “Mela gak bisa lis, lagian rumah dia juga jauh kan” jawab Tya. “Uli bisa tapi gak tau juga bisa atau gak pokoknya kalo Uli bisa dia nyusul, kita nunggu di Gramedia” jelas Betty.
            Aku bersama yang lain pun menyetop angkot, dan kami pun pergi menuju tempat tujuan kami. Walau hanya berempat, tapi aku merasakan kegembiraan seperti halnya kami bertujuh. Aku membuat lelucon untuk menghibur teman-temanku agar kami tidak bosan dalam perjalanan. Haha betapa senangnya kami, tidak terasa kami telah sampai di tempat tujuan kami.
            Aku dan yang lain menunggu Uli di Gramedia, dan tak lama Uli muncul dan kami segera menuju ke bioskop tuk membeli tiket. Aku dan Uli memesan snack lalu masuk ke bioskop bersama yang lainnya. Selesai menonton, rencana kami untuk membeli kado harus dilaksanakan, namun aku harus mengantar Uli pulang.
            “Ty gimana nih beli kadonya? Uli susah banget diajak pulang” bisikku. “Hmm… kita kan berempat searah pulangnya bilang aja kita pulang duluan” jawab Tya. “yaudah deh. Uli kita pulang duluan ya, kamu mau ke klinik ibu kamu kan?” kataku, “aku ikut kalian aja deh lewat depan, nanti aku naik angkot yang lain” jawabnya. “okedeh”
            Aku mengantar Uli ke tempat angkot yang akan ditumpanginnya, tetapi saat kami melewati toko topi, tiba-tiba Uli berhenti berjalan dan menghampiri toko topi itu dan mengambil salah satu topi ditoko itu. “Aaaa…ini kan topi yang aku cari” ia memakai topi tersebut dan bergaya layaknya artis.
“kode dah” bisikku ke Regina, “ya haha lis“ tawa Regina. “mas yang ini harganya berapa ya?” tanya Uli kepada salah pegawai toko topi itu. “90 ribu dek” jawab pegawai toko itu. “oh yaudah deh mas, lain kali aja”
Sepertinya Uli menginginkan topi itu, iya sih memang lagi ngetrend-nya topi seperti itu, aku tak tahu harganya tadi aku tak mendengarnya dengan jelas. “tadi harganya berapa deh bet?” tanyaku kepada Betty, “gak tau aku gak denger tadi”.
Tak terasa aku sudah sampai didepan dan mengantar kan Uli dan berpura-pura mendadahi Uli lalu menaikki angkot lain. Setelah itu, kami masuk kembali kedalam Mall tersebut dan ke toko topi itu. “mas topi yang ini berapa tadi?” tanya Tya, “90 ribu dek”.
“Yah, mahal yak. Uang aku ga cukup deh kayanya kalo patungan harganya segitu” kata Betty, “ya nih uang aku juga” kataku, “aku juga” kata Regina. “udah ah aku capek dari tadi jalan-jalan mondar mandir mulu” keluh aku. “Iiihh yaudah kadonya beli apa?” tanya Tya agak kesal.
Aku hanya mendiamkan perkataan Tya, kaki ku lemas lama-lama jika harus pergi lagi mencari kado yang lain. Tanpa berkata-kata aku pun berjalan paling depan dan mencari toko-toko, aku pun masuk ke toko ‘Yayang’ diikuti yang lain.
“Cari yang mana nih?” tanya Regina, “terserah kalian” jawabku. “yang ini gimana?” usul Betty. “memang Uli mau kek beginian?” tanya Tya. “gak sih” kataku. “oh iya Cindy juga kan ulang tahun senin, sekalian beli kadonya aj kali yak” kata Betty. “kado buat Uli aja belum” batinku.
Akhirnya aku dan yang lain  mencari barang yang bagus dijadikan kado untuk Uli dan Cindy, kado Untuk Cindy  itu lampu meja bergambar doraemon, kebetulan juga Cindy sangat menyukai doraemon. Namun kado yang cocok buat Uli belum juga ketemu.
Akhirnya aku dan yang lain masuk ke Ramayana, dan berniat menyari baju sesuai selera Uli. Menemukan baju yang cocok buat Uli sangatlah susah aku pun harus mondar mandir kesana kemari. Tiba-tiba aku melihat sebuah baju yang sangat bagus dan menarik walaupun itu hanya kaos tapi warna dan gambarnya sangat menarik.
Dan juga tedapat quotes-quotes dalam bahasa inggris, memang Uli sangat pintar dalam bahasa inggris. Tetapi aku dan teman-teman menemukan masalah, kami bingung ukuran badan Uli berapa. Aku pun menyuruh Regina mencobanya, karena memang badan Regina ideal mungkin bisa menjadi patokannya.
“Re cobain re” pintaku. “ah jangan aku ah” kata Regina, “yailah re nyoba doang iih” kata Betty. “tau nih Re buruannn” paksa Tya. “tau re buruan, aku udah di sms suruh pulang”. Aku, Tya dan Betty marah karena Regina susah disuruh untuk mencoba memakainya padahal aku dan yang lain sangat buru-buru karena langit sudah mulai gelap dan hujan telah membasahi bumi.
“Yaudah deh aku coba sinii” jawab Regina dengan wajah pasrah. “dari tadi kek huh nihh” kata Tya. “tau nih hoo” seru ku.
Regina menyoba baju itu dan pas, aku pun mengambik ukuran yang lebih besar lagi karena memang badan Uli agak sedikit besar dibanding Regina. Aku dan yang lain pun pergi ke kasir, dan membayar baju tersebut. Setelah itu, aku memutuskan untuk pulang duluan bersama Regina dan Tya, Betty masih di Mall mencari makanan untuk mengisi perut mereka.
Pada hari seninnya, Aku, Tya, Regina, Betty, Imelda, dan Melati memberi kado tersebut langsung kepada Uli dan Cindy. Mereka pun menerima kado itu dengan senang hati, betapa senangnya aku dan yang lain akhirnya bisa memberikan kado untuk Sahabat kami Uli dan Cindy.


Alicia Nathasa Arastone

0 komentar:

Posting Komentar

 

Alicia's World Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos